Kawan, aq menulis artikel seperti ini karena “tergelitik” setelah membaca sebuah blog yg salah satu postingannya adalah perasaan si penulis yg merasa fakultas yg dipilihnya dipandang sebelah mata. Kebetulan fakultas yg dipilihnya sama dengan ku (bukan maksud utk membangga-banggakan fakultasku ya… ), Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam. Ya kasusnya sih katanya mipa itu diremehin sama anak teknik….masa sii??? Mungkin iya mungkin ngga…..
Sebelumnya ni, itu tulisan “CL” di judul apa sih mksudnya??... Chlorida?(mentang2 nak kimia)..cewek lebay?...cucak lowo sing dawa buntute?(yg ngomong cadel)… Trus-trus, naon eta “Positive Interdependence”??
Gini loo… setelah malemnya baca postingan di blog tersebut, paginya aq ada kegiatan Orientasi Belajar Mahasiswa (OBM) di kampusku (UIUIUI..hehe).. aq liat jadwal, ternyata tertera materi “CL”. Jadi “CL” itu apa?? CL ternyata singkatan dari Collaborative Learning, yaitu suatu proses pembelajaran mengenai suatu hal yang dilakukan secara bersama di dalam kelompok, yang setiap anggota kelompoknya memiliki kesempatan yang sama dalam menyumbangkan informasi, pengetahuan, pengalaman, ide, sikap, pendapat, kemampuan dan keterampilan yg dimilikinya, serta memiliki tanggung jawab yg sama terhadap kemajuan proses belajar, baik bagi diri sendiri maupun bagi anggota kelompok lainnya. Naah, salah satu yg bisa menunjang keberhasilan dari Collaborative Learning ini adalah Positive Interdependence, yaitu rasa saling ketergantungan, saling membutuhkan antar individu.
Setelah seharian ngikutin materi ttg CL ini, tiba2 sekejap secepat angin (prok prok wussshh) kepikiran ttg masalah remeh-meremehkan yg aq baca di blog td malem… coba kalau dalam kehidupan ini, diterapkan CL (singkatan dari collaborative life yg aq pikir), trus pada punya kesadaran positive interdependence?? Mungkin ga ada tuh remeh-meremehkan kyk gtu…
Sambil merhatiin temen2 yg presentasi ttg CL di depan, aq mikir…. “oh iya ya, setiap individu itu saling ketergantungan. Kan manusia itu makhluk sosial…contohnya bisa jd kyk gni :
Orang teknik akan sulit berkembang kalau tidak ada penemuan2 mutakhir di bidang sains. Nah, penemuan2 itu ditemukan oleh orang2 MIPA. Orang mipa klw udh stress, bisa curcol deh sama org psikologi. Orang psikologi jg ga boleh menutup diri dari permasalahan social. Hal itu bs ditanyakan ke org2 FISIP. Untuk meneliti permasalahan social maupun politik, qt bs flashback ke belakang utk melihat sejarah dan mengetahui budaya suatu bangsa. Hal itu tanyakan saja kpda org ilmu budaya. Klw org ilmu budaya butuh bantuan hukum, bs mnta tolong ke org hukum. Org hukum ga boleh gaptek, kan hukum ja udh merambah dunia IT, kyk undang-undang ITE. Jadi, klw mau tau masalah IT bisa sharing sama orang Fasilkom. Org2 IT klw sakit, bisa ke dokter toh. Trus dokter perlu perawat utk ngerawat pasiennya. Masa’ dokternya mantengin pasien yg dirawat? Kan repot. Kalau perawatnya punya masalah “pergigian” seperti karang gigi, gigi bolong-lah, bisa diperiksain ke dokter gigi. Dokter gigi spya bisa optimal menjalankan kegiatannya, gizinya harus seimbang. Hal itu bs dikonsultasikan ke org2 kesehatan masyarakat. Orang2 kesmas yg bingung ngatur keuangannya supaya gak belang-bentong, apalagi pas tanggal tua, bs konsultasi ke org ekonomi. And org ekonomi kalau mau buat industry yg bs memajukan perekonomian bangsa, bs tuh kerjasama dengan org teknik .”
Jadi, benerkan semua saling bergantung??? Jd apa yg perlu diremehkan???
Moga tulisan ini bermanfaat, dan menggugah qt utk bersatu, berkolaborasi satu sama lain utk memajukan bangsa ini tanpa saling merendahkan . Be Collaborative life!
By: A.I.R. Naftalent 53
Minggu, 21 Agustus 2011
Posts by : Admin
Langganan:
Posting Komentar (Atom)


Tidak ada komentar:
Posting Komentar